Paksa Klik Iklan Pada Blogger UNTUK MENUTUP IKLAN

29/06/11

MATERI KULIAH ILMU KALAM


BAB 1
1. DASAR DASAR QURANI DAN SEJARAH KEMUNCULAN PERSOALANPERSOALAN KALAM

A. Nama dan Pengertian Ilmu Kalam
Ilmu kalam dbiasa disebut dengan beberapa nama antara lain: ilmu ushuludin, ilmu tauhid, ilmu fiqh Al-Akbar, dan teologi islam. Disebut Ilmu Usuludin karena ilmu ini membahas tentang pokok-pkokok agama. Disebut ilmu tauhid karena ilmu ini membahas tentang keesaan Allah. Didalamnya dikaji juga tentang asma (nama) dan af’al(perbuatan) Allah yang wajib, mustahil, dan jaiz. Juga sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi rasulNya. Secara objektif, ilmu kalam sama dengan ilmu tauhid, tetapi argumentasi ilmu kalam lebih dikonsentrasikan pada penguasaan logika.
B. Sumber-sumber Ilmu Kalam
1) Al-Qur’an
Sebagai sumber ilmu kalam Al-Qur’an banyak menyinggung tentang hal yang berkaitan dengan ketuhanan, diantaranya:
• QS. Al-Ikhlas(112):3-4 ayat ini menunjukan bahwa Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatupun didunia ini yang tampak sekutu (sejajar) denganNya.
• Qs. Asy-Syura(42):7 ayat ini menunjukan bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun di dunia ini. Ia Maha mendengar lagi maha mengetahui.
• Qs. Al-Furqan(25):59. Ayat ini menunjukan bahwa Tuhan yang Maha Penyayang bertahta diatas Arsy. Ia pencipta langit, bumi dan semua yang ada diantara keduanya.
• Qs. Thoha(20):39. Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai mata yang selalu digunakan untuk mengawasi seluruh gerak, termasuk gerak hati Makhluknya.
• Qs. Ar-Rahman(55):27. Ayat ini menunjukan bahwa Tuhan mwmpunyai wajah yang tidak akan rusak selamanya.
• Qs. Lukman (31):22. Ayat ini menunjukan bahwa orang orang yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah disebut orang muhsin.
• Qs. Ali Imran(3):83. Ayat ini menunjukan bahaw tuahan adalah tempat kembali segala sesuatu, baik secara terpaksa ataupun tidak sadar.
• Qs. Al-Anbiya(21): 92. Ayat ini menunjukan bahwa manusia dalam berbagai suku, bangsa, ras, dan etnis, dan agam apapun adalah umat Tuhan yang satu. Oleh karena itu, semua umat, dalam kondisi dan situasi apapun, harus mengarahkan pengabdiannya hanya kepadaNya.
2) Hadits
Hadits Nabi pun banyak membicarakan masalah-masalah yang dibahas ilmu kalam.
Hadits tentang kemunculan berbagai aliran/ golongan dalam Ilmu Kalam:
“hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. Ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “orang-orang yahudi akan terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh golongan.”
“hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Ia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “akan menimpa umatku apa yang pernah menimpa bani Israil. Bani Israil telah terpecah belah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 70golongan. Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan saja, “ Siapa mereka itu, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat, Rasulullah menjawab, ‘mereka adalah yang mengikuti jejakku dan sahabat-sahabatku.’
2. Pemikiran Manusia
Pemikiran manusia dalam hal ini, baik berupa pemikiran umat islam sendiri atau pemikiran yang berasal dari luar umat islam. Sebelum filsafat yunani masuk dan berkembang didunia islam, umat islam sendiri sudah menggunakan pemikiran rasionalnya untuk menjelaskan hal hal yang berkaitan dengan ayat ayat Al-Qur’an, terutama yang belum jelas maksudnya. Keharusan menggunakan akal rasional ternyata mendapat pijakan dari beberapa ayat Al-Qur’an diantaranya:
Qs. Muhammad(47): 24, yang artinya “apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.”
3. Insting
Secara instingtif, manusia selalu ingin berTuhan. Oleh sebab itu, kepercayaan adanya Tuhan telah berkembang sejak adanya manusia pertama. Abbas Muhammad mengatakan bahwa keberadaan mitos merupakan asal- usul agama dikalangan primitif. Menurut Tylor, animisme-anggapan adany kehidupan pada benda benda mati merupakan asal-usul kepercayaan adanya Tuhan. Dapat disimpulkan bahwa, kepercayaan adany aTuhan secara instingtif telah berkembang sejak keberadaan manusia pertama. Oleh sebab itu sangat wajar kija William L. Reseemengatakan bahwa ilmu yang berhubungan ketuhanan yang dikenel dengan istilah Theologia telah berkembang sejak lama. Teologi muncul dari sebuah mitos, selanjutnya teologi berkembang menjadi teologi alam, dan teologi wahyu. Ilmu kalam bersumber dari Al-Qur’an, hadits, pemikiran manusia, dan insting. Ilmu kalam adalah ilmu yang menpunyai objek sendiri, tersistematikan dan mempunyai metodoli sendiri.

C. Kemunculan Persoalan – persoalan Kalam
Menurut Harun Nasution, kemunculan persoalan kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan yang berbuntut pada penolakan Muawiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Ketegangan antara Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib mengkristal menjadi perang siffin, yang berahir dengan keputusan tahkim(arbitrase). Sikap ali yang menerima tipu muslihat Amr bin Al-Ash, utusan dari pihak Muawiyah dalam tahkim, sungguh dalam keadaan terpaksa, tidak disetujui oleh sebagian tentaranya.
Persoalan ini telah menimbulkan aliran teologi dalam islam, yaitu:
1. Aliran Khawarij, menegaskan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir, dalam arti telah keluar dari islam, atau tegasnya Murtad dan wajib dibunuh.
2. Aliran Murjiah, menegaskan bahwa oarang-orang yang berbuat doa besar masih tetap mukmin dan bukan kafir. Adapun soal dosa besar yang dilakukannya, hal itu terserah Allah untuk mengampuni atau menghukuminya.
3. Aliran Mu’tazilah, yang tidak menerima pendapat keduanya. Bagi mereka orang berbuat dosa besar bukan kafir, tetapi bukan mukmin. Mereka mengambil posisi antara kafir dan mukmin, yang dalam bahasa arabnya dikenal dengan sebutan al-manzilah manzilatain(posisi diantara posisi).

BAB 2
KERANGKA BERFIKIR ALIRAN-ALIRAN ILMU KALAM
Prinsip-prinsip metode berfikir rasional, meliputi:
1. hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan jelas dan tegas disebut dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi, yakni ayat yang qath’i.
2. memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan berkehendak.
3. memberikan daya yang kuat pada akal.
Prinsip-prinsip metode berfikir tradisional, meliputi:
1. terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti zhanni
2. tidak memberikan kebebasan apda manusia dalam berkehendak dan berbuat.
3. memberikan daya yang kecil pada akal.
Disamping pengkategorian teologi rasional dan tradisional, dikenal juga pengkategorian akibat adanya perbedaan kerangka berfikir dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kalam:
1. Aliran antroposentris
Aliran ini menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat intrakosmos, baik yang natural maupun yang sutranatural. Manusia adalah anak kosmos, unsur supranatural dalam dirinya merupakan sumber kekuatannyq. Tugas manusia adalh melepaskan unsur natural yang jahat. Ashari menganggap manusia yang berpandangan anrtoposentris sebagai sufi adalah mereka yang berpandangan mistis dan statis. Padahal manusia antroposentris adalah sangat dinamis kerena menggap hakikat realitas transenden yang bersifat intrakosmos dan impersonal datang kepada manusia dalam bentuk daya sejak manusia lahir.
2. Teolog Teosentris
Aliran ini menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat sutrakosmos, personal, dan ketuhanan. Tuahan adalah pencipta segala sesuatu yang ada di kosmos ini.manusia adalah ciptaannya sehingga harus berkarya hanya untukNya. Didalam kondisi yang relatif, diri manusia adalah migran abadi yang segera akan kembali kepada Tuhan.
Manusia teosentris adalah manusia yang statis karena sering terjebak dalam kepasrahan mutlak kepada Tuhan. Sikap tersebut menjadikan ia tidak punya pilihan. Baginya segala perbuatannya adalah halikatnya perbuatan Tuhan, ia tidak punya pilihan lain selain apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
3. Aliran Konvergensi atau Sintesis
Aliran ini menganggap bahwa hakikat realitas trasenden bersifat supra sekaligus intrakosmos, personal dan impersonal, lahut dan mashut, makhluk dan Tuhan, sayang dan jahat, lenyap dan abadi dan lainnya. Aliran ini memandang bahwa pada dasarnya segala sesuatu itu slalu berada pada ambigu(serba ganda) baik secara subtansial maupun formal. Secara subtansial, sesuatu mempunyai nilai batini, huwiyah, dan eternal. Secara formal sesuatu mempunyai nilai zahiri, inniyah, dan temporal karena merupakan cerminan Al-Haq.
Aliran ini berkeyakinan bahawa hakikat daya manusia merupakan proses kerja sama antara daya transendental(Tuhan) dalam bentuk kebijaksanaan dan daya temporal(manusia) dalam bentuk teknis.
4. Aliran Nihilis
Aliran ini menganggap bahwa hakikat realitas transendental hanyalah ilusi. Aliran inipun menolak Tuhan yang mutlak, tetapi menerima berbagai variasi Tuhan kosmos. Manusia hanyalah bintik kecil dari aktivitas mekanisme dalam suatu masyarakat yang serba kebetulan.


BAB 3
HUBUNGAN ILMU KALAM, FILSAFAT, DAN TASAWUF

A. TITIK PERSAMAAN
Ilmu kalam, filsafat dan tasawuf memiliki persamaan objek kajian. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan denganNya. Objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan, disamping masalah alam, manusia dan segala sesuatu yang ada. Objek kajian ilmu tasawuf adalah Tuhan, yakni upaya-upaya pendekatan terhadapNya. Jadi dilihat dari aspek objeknya, ketiga ilmu tersebut membahas tentang masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.
Baik ilmu kalam, filsafat maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan denganNya. Filsafat dengan wataknya sendiri berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia atau tentang Tuhan. Dan tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal, berusaha menghampiri kebenaran yang berkaitan denagn perjalanan spiritual menuju Tuhan.
B. TITIK PERBEDAAN
Perbedaan diantara ketiga terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika, untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama yang sangat tampak nilai-nilai apologinnya. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (dialog keagamaan).
Sementara filsafat adalah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran yang rasional. Metode yang digunakan adalah metode rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menuangkan akal budi secara radikal(mengakar) dan integral(menyeluruh) serta universal(mengalam). Tidak terikat denagn apapun kecuali dengan logika.
Ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan pada rasa daripada rasio. Oleh karena itu filsafat dengan tasawuf sangat distingtif. Sebagai ilmu yang prosesnya didapat dari rasa, ilmu ini sangat subjektif, yang sangat berkaitan ddengan pengalaman seseorang sehingga bahasa tasawuf tampak aneh dari segi rasio dan sulit dipahami.
Didalam perkembangannya, ilmu kalam berkembang menjadi teologi rasional dan tradisional. Filsafat berkembang menjadi sains dan filsafat sendiri. Sains berkembang menjadi sains alam, sosial dan humaniora, sedangkan filsafat berkembang menjadi filsafat klasik, pertengahan da modern. Tasawuf berkembang menjadi tasawuf praktis dan toeritis.
C. Titik Singgung Antara Ilmu Kalam dan ilmu Tasawuf
Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu yang mengedepankan perbincangan tentang persoalan-persoalan tentang kalam Tuhan, yang mengarah pada perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional(aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi rasional adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah adalh bertendensi pada argumentasi yang berupa dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits.
Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu tasawuf berfungsi sebagai pemberi wawasan spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam lewat hati terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu tauhid jika dilihat ilmu tasawuf merupakan sisi terapan rohaniyah dari ilmu tauhid.
Ilmu kalam pun berfungsi sebagi pengendali ilmu tasawuf. Oleh karena itu jika timbul suatu aliran yang bertentangan denagn akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah hal itu merupakan penyelewengan atau penyimpangan. Jika bertentangan dan tidak pernah diriwayatkan oleh ulama ulama salaf hal itu harus ditolak.

BAB. 4
KHAWARIJ DAN MURJI’AH
A. KHAWARIJ
1. Latar Belakang Kemunculan
Secara etimologis kat khawarij berasal dari bahasa Arab yaitu kharaja yang berarti keluar, muncul, timbul atau memberontak. Adapun menurut terminologi ilmu kalam adalah suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase(tahkim), dalam perang siffin pada tahun 37H/648M. Dengan kelompok bughat (pemberontak) Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persektean khilafah.
2. Khawarij dan Doktrin-doktrin Pokoknya
a. Khalifah/imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat islam.
b. Khalifah tidak harus dari keturunan arab. Dengan demikian setiap muslim berhak menjadi khalifah jika sudah memenuhi syarat.
c. Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi karena hidup dalam dar al-harb(negara musuh), sedang golongan mereka sendiri dianggap dalam negara islam.
d. Quran adalah makhluk
e. Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan
f. Amar ma’ruf nahi munkar
g. Memalingkan ayat-ayat Al-Qur’an yang tampak mutasabihat(samar)
h. Khalifah Ali adalah sah tetapi setelah arbitrase ia dianggap telah menyeleweng.
i. Pasukan perang jamal yang melawan Ali juga kafir
j. Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.
Doktrin teologi Khawarij yang radikal pada dasarnya merupakan imbas langsung dari doktrin sentral, yaitu politik. Radikalitas itu sangat dipenuhi oleh sisi budaya mereka yang juga radikal serta asal-usul mereka yang berasal dari masyarakat badawi dan penggembara padang pasir tandus. Hal ini menyebabkan watak dan pola pikir mereka menjadi keras, berani, tidak bergantung pada orang lain dan bebas.
3. Perkembangan Khawarij
Khawarij telah menjadikan imamah-khalifah(politik) sebagai doktrin sentral yang memicu timbulnya doktrin-doktrin teologis lainnya. Radikal yang melekat pada watak dan perbuatan kelompok khawarij menyebabkan mereka sangat rentan pada perpecahan, baik secara internal kaum khawarij sendiri, maupun secara eksternal dengan sesama kelompok islam lainnya.

B. AL-MURJI’AH
1. Latar Belakang Kemunculan
Nama Murjiah diambil dari kata irja yang artinya penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata arja’a mengandung arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk mendapatkan Pengampunan dan rahmat dari Allah SWT. Arja’a berarti juga meletakkan dibelakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu Murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Muawiyah dan Ali serta pasukan nya masing-masing dihari kiamat kelak.
C. Doktrin-doktrin Murji’ah
Ajaran pokok Murji’ah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja’ atau arja’a yang diaplikasikan dalam persoalan politik atau teologis.


Perincian doktrin Murji’ah menurut W. Montgomery Watt:
1. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya diakhirat kelak.
2. Penangguhan Ali untuk menduduki rangking ke 4 dalam peringkat Al-Khalifah Ar-Rasyidun.
3. Pemberian harapan terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allh SWT.
4. Doktrin Murji’ah menyerupai pengajaran para skeptis dan empiris dari kalangan Helenis.
Doktrin Murji’ah menurut Harun Nasution:
• Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-Asy’ary yang terlibat tahkim dan menyerahkan kepada Allah di hari kiamat kelak.
• Meletakkan pentingnya iman dari pada amal.
• Menyerahkan keputusan kepada Allah atas muslim yang berdosa besar.
• Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah SWT.



D. Sekte-sekte Murji’ah
Kemunculan sekte-sekte kelompok murji’ah dipicu oleh perbedaan pendapat dikalangan para pendukung Murji’ah sendiri.
Sekte-sekte Murjiah menurut Ash-Syahrastani:
• Murji’ah Khawarij
• Murji’ah Qodariyah
• Murji’ah Jabariyah
• Murji’ah Murni
• Murji’ah Sunni(Abu Hanifah)
• Sekte-sekte Murjiah menurut Muhammad Imarah:
• Al-Jahmiyah, pengikut Jahm bin Shufwan
• Ash-Shalihiyah, pengikut Abu Musa As-Shahali
• Al-Yunushiyah, pengikut Yunus As-Samary
• Asy-Syaubaniyah, pengikut Abu Syauban
• As-Samriyah, pengikut Abu Samr dan Yunus
• An-Najariyah, pengikut Al-Husain bin Muhammad An-Najr
• Al-Murisiyah, pengikut Basr Al-Murisy
• Al-Karamiyah, pengikut Muhammad bin Karam As-Sijistany
• Asy-Syabibiyah, pengikut muhammad bin Syabib
• Al-Hanafiyah, pengikut Abu Hanifah An-Nu’man
Harun Nasution mengklasifikasikan Murji’ah menjadi 2 sekte, yaitu golongan moderat dan golongan ekstrim. Murji’ah moderat berpendirian bahwa pendosa besar tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula kekal dalam neraka. Mereka disiksa sesuai dengan dosanya, dan diampuni Allah sehingga tidak masuk neraka sama sekali.





BAB.5
JABARIYAH DAN QADARIYAH
A. JABARIYAH
1. Asal-usul Pertumbuhan Jabariyah
Kata jabariyah berasal dari kata “jabara” yang artinya memaksa dan mengharuskan melakukan sesuatu. Jabariyah adalah suatu kelompok yang berfaham bahwa perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh qadar dan qadha Tuhan. Faham al-ajbar pertama kali diperkenalkan oleh ja’d bin Dirham kemudian disebarkan oleh Jahm binShafwan dari khurasan. Dalam sejarah teologi islam, Jahm tercatat sebagai tokoh yang mendirikan aliran jahmiyah dalam kalangan Murjiah.
Dasar-dasar pemikiran aliran jabariyah
Dasar pemikiran aliran jabariyah adalah dalil dalil yang bersumber pada Al-Qur’an.
• Surat Al-Saffat ayat 96
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Alloh menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”
• Surat Al-Anfal ayat 17
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى
“ bukanlah engkau yang melemparkan ketika engkau melempar (musuh, tetapi Alloh lah yang melempar (mereka).
• Surat Al-Ikhsan ayat 30
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ
“bukanlah kamu yang menghendaki, tetapi Alloh yang menghendaki.”

2. para pemuka jabariyah dan doktrinnya
a. Jahm bin Shofwan
Nama lengkap adalah Abu Mahrus Jaham bin Shafwan,. Ia bersal dari Khurasan, bertempat tinggal di Khufah. Ia seorang dai yang fasih dan lincah; ia menjabat sebagai sekertaris Haritsbin surais, seorang mawali yang menentang pemerintah bani Umayah di Khurasan.
Pendapat Jahm brtkaitan dengan persoalan teologi:
1) Manusia tidak mampu berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat Jahm tentang ketepaksaan ini lebih terkenal dibanding dengan pendapatnya tentang sugra dan neraka, konsep iman, kalam tuhan, meniadakan sifat tuhan dan melihat tuhan di akherat.
2) Surga dam neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal srlain tuhan.
3) Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati. Pendapatnya sama dengan konsep iman yang dimajukan kaum murjiah.
4) Kalam tuhan adalah mahluk. Allah maha suci dari segala sifat dan keserupaan dengan manusia seperti berbicara, mendengar, dan melihat.
b. Ja’d bin Dirham
Al ja’d adalah seorang maulana bani hakim yang tinggal di Damaskus.
Doktrin pokok ja’d secara umum sama dengan pemikiran Jahm yaitu:
1) alquran adalah mahluk oleh karena itu dia baru. Sesuatu yang baru itu tidak dapat disifatkan kepada tuhan.
2) Tuhan tidak mempunyai sifat yang serupa dengan mahluk.
3) Manusia terpaksa oleh tuhan dalam segalanya.

c. An-Najjar
Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad an-Najjar. Pendapatnya adalah:
1) Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan itu.
2) Tuhan tidak dapat dilihat di akherat akan tetapi tuhan dapat saja memindahkan potensi hati pada mata sehingga manusia dapat melihat tuhan.
d. Adh-Dhirar
Nama lengkaapnya adalah Dhiror bin Amr. Pendapatnya tentang perbuatan manusia sama dengan an-Najjar yakni bahwa manusia tidak hanya merupakan wayang yang digerakkan dalangnya. Manusia mempunyai bagian dalam perwujudan perbuatannya dan tidak semata-mata terpaksa dalam melakukan perbuatannya. Mengenai rukyat tuhan di akherat, ia mengatakan bahwa tuhan dapat dilihat di akherat lewat indera ke enam.
B. QADARIYAH
1. Asal-usul Kemunculan Qadariyah
Qadariyah berasal dari kata qadara yang berarti kemampuan dan kekuatan. Menurut terminologi, Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diinterversi oleh tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta dari segala tindakannya. Ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendak sendiri.
2. Doktrin-doktrin Qadariyah
Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal, penbahasan masalah Qadariyah disatukan dengan pembahasan tentang doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan diantara keduanya kurang begitu jelas. Menurutnya, manusia mempunyai kekuatan untuk mewujudkan tindakan tanpa ampur tangan Tuhan. Menurut paham Qadariyah, manusia berkuasa atas perbuatannya, manusia sendirilah yang melakukan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manuisa sendiri juga yang melakukan atau menjauhi perbuatan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Karena pada dasarnya segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknyaa sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untuk melakukan awgala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik terbuatan jahat atau baik.
Faham takdir menurut Qadariyah, bukanlah dalam pengertian takdir yang umum dipakai oleh bangsa arab ketika itu, yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatannya, manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali terhasap dirinya. Dalam ajaran Qadariyah, takdir adalah ketentuan allah yang diciptakanNya bagi alam semesta beserta seluruh isinya sejak azali.



BAB.6
MU’TAZILAH
A. ASAL-USUL KEMUNCULAN MU’TAZILAH
Secara Harfiah Mu’tazilah berasal dari kata I’tazala yang berarti berpisah/memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri. Secara teknis, Mu’tazilah menunjuk pada 2 golongan. Golongan pertama (Mu’tazilah1), golongan ini tumbuh sebagi kaum netral politik, khususnya dalam atri bersifat lunak dalam menangani pertentangan antara Ali dan lawannya.
B. LIMA AJARAN DASAR TEOLOGI MU’TAZILAH
1. At-Tauhid
At-Tauhid (pngesaan Allah) merupakan prinsip utama dan intisari ajaran Mu’tazilah. Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaanNya. Tuhan lah satu-satunya yang Esa, yang unik dan tak ada pun yang mampu mengamainya. Untuk memurnikan keesaan Tuhan, Mu’tazilah menolak konsep Tuhan memiliki sifat-sifat, penggambaran fisik Tuhan, dan Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala. Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan itu Esa, tak ada satupun yang menyerupainya,. Dia maha melihat,Mendengar, Kuasa, Mengetahui, dan sebagainya.
2. Al-Adl
Al-Adl adalah Tuhan maha adil. Adil ini merupakan sifat yang paling gamblang untuk menunjukan kesempurnaan. Ajaran ini bertujuan ingin menempatkan Tuhan benar-benar adil menurut sudut pandang manusia, kerna alam semesta ini sesungguhnya diciptakan untuk kepentingan manusia. Tuhan dipandang adil jika hanya berbuat baik. Tuhan adil jika tidak melanggar janjiNya. Dengan demikian, Tuhan terikat dengan janjiNya.
3. Al-Wa’d wa al-Wa’id(janji dan ancaman)
Perbuatan Tuhan terikat dan dibatasi oleh janjiNya sendiri, yaitu memberi pahala surga bagi yang bebuat baik dan mengancam dengan siksa neraka bagi orang yang durhaka. Begitu juga janjji Tuhan untuk memberi pengampunan pada orang yang bertobat nasuha.
4. Al-Manzilah bain al-manzilatain
Ajaran ini yang menyebabkan lahirnya mazhab Mu’tazilah. Pokok ajaran inni adalah bahwa mukmin yang melakukan dosa besar dan belum tobat lagi mukmin atau kafir, tetap fasik, izutsu, dengan mengutip Ibn Hazm, menguraikan Mu’tazilah sebagai berikut: “orang yang melakukan dosa besar disebut fasik, ia bukan mukmin dan bukan kafir dan munafik.”
Menurut mu’tazilah, pelaku dosa besar tidak dapat dikatakan sebagai mukmin secara mutlak. Hal ini karena keimanan menuntut adanya kepatuhan kepada Tuhan, tidak cukup hanya pengakuan dan pembenaran. Berdosa besar bukanlah kepatuahan melainkan kedurhakaan. Pelakunya tidak dapat dikatakan kafir secara mutlak karena ia masih percaya kepada tuhan, RasulNya, dan mengerjakan pekerjaan yang baik. Hanya saja jika ia meninggal sebelum bertobat, maka ia dimasukan keneraka dan kekal didalamnya. Orang fasik pun dimasukan keneraka, hanya saja siksaannya lebih ringan.
5. Al-Amr bi Al-Ma’ruf wa An-Nahy an Munkar
Ajaran ini menekankan keberbihakan kepada kebenaran dan kebaikan. Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan seseorang. Pengakuan keimanan seseorang. Pengakuan keimanan harus dibuktikan dengan perbuatan baik, yakni dengan menyuruh orang dengan berbuat baik dan mencegahnya dari kejahatan. Perbedaan mazhab Mu’tazilah dengan mazhab lain mengenai ajaran ini adalah terletak pada tatanan pelaksanaannya. Menurut Mu’tazilah, jika memang diperlukan, kekerasan dapat ditempuh untuk mewujjudkan ajaran tersebut. Sejarah pun telah mencatat kekerasan yang pernah dilakukannya ketika menyiarkan ajaran-ajarannya.

BAB.7
SYI’AH
A. PENGERTIAN DAN ASAL-USUL KEMUNCULAN SYI’AH
Syiah menurut bahasa berarti pengikt, pendukung, pertai, atau kelompok. Sedangkan secara terminologi adalah sebagai kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada ketutunan Nabi Muhammad Saw. Point penting dalam doktrin Syiah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agam bersumber dari ahl-bait. Mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl-bait atau para pengikutnya.
B. SYI’AH ITSNA ASYARIYAH(SYIAH 12/SYI’AH IMAMIYAH)
1. Asal-usul Penyebutan Imamiyah dan Syiah Itsna Asy’ariyah
Dinamakan Syi’ah imamiyah karena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalam arti pemimpin religio politik, yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya karena kecakapannya atau kemuliaan akhlaknya, tetapi juga karena ia telah ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Syiah Itsna Asy’ariyah sepakt bahwa Ali adalah penerima wasiat Nabi Muhammad seperti yang ditujukan nas.
2. Doktrin-doktrin syiah Itsna Asy’ariyah
a. Tauhid
Tuhan adalah Esa baik esensi maupun eksistensinya. Keesaan Tuhan adalah mutlak. Ia bereksistensi dengan sendirinya sebelum ada ruang dan waktu. Keesaan Tuhan tidak tersusun, Tuhan tidak membutuhkan sesuatu,. Ia berdiri sendiri, tidak dibatasi oleh ciptaanNya dan tidak bisa dilihat dengan mata biasa.
b. Keadilan
Tuhan menciptakan kebaikan alam semesta ini merupakan keadilan. Ia tidak pernah menghiasi ciptaanNya dengan ketidakadilan. Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk mengetahui perkara yang benar atau salah melalui perasaan.
c. Nubuwwah
Setiap makhluk telah diberi insting, masih membutuhkan petunjuk, baik dari Tuhan atau manusia. Rasul merupakan petunjuk hakiki dari Tuhan secara transenden diutus untuk memberikan acuan dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk dialam semesta ini.
d. Ma’ad
Maad adalah hari akhir untuk menghadap pengadilan Tuhan diakhirat. Setiap muslim harus yakin akan keberadaan kiamat dan kehidupan suci setelah dinyatakan bersih dan lulus dalam pengadilan tuhan.
e. Imamah
Imamah adalah institusi yang dianugrasikan Tuhan untuk memberikan petunjuk kepada manusia yang dipilih dari keturunan Ibrahim, dan didelegasikan kepada keturunan Muhammad sebagai Nabi dan rasul terahir.

C. SYI’AH SAB’IYAH(SYIAH TUJUH)
1. Doktrin imamah dalam pandangan Syi’ah sab’iyah
Syarat imam dalam pandangan Syi’ah Sab’iyah:
• Imam garus berasal dari keturunan Ali melalui perkawinan Ali dengan fatimah.(ahlu bait)
• Keimaman jatuh pada anak tertua
• Iamam harus dijabat dengan orang yang paling baik.
• Imam berdasarkan pada petunjjuk atau nas
• Imam harus maksum

D. SYI’AH ZAIDIYAH
1. Asal-usul penamaan Zaidiyah
Disebut Zaidiyah karena sekte ini menganut Zaid bin Ali sebagai imam kelima. Syiah ini merupakan syiah moderat.
2. Doktrin imamah menurut syiah zaidiyah.
Zaidiyah menolak pandangan bahwa seorang imam yang mewarisi kepemimpinan Nabi SAW. Imam telah ditunjuk oleh Nabi tetapi hanya ditentukan saja sifat-sifatnya.
3. Doktrin Syiah Zaidiyah
Syiah zaidiyah percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akal kekal dalam neraka jika dia belum bertobat dengan sesungguhnya. Zaidiyah juga menolak mikah Mut’ah (temporer). Karena nikah mut’ah merupakan nikah yang dihapuskan pada masa Nabi SAW.
E. SYI’AH GHULAT
1. Asal-usul syiah ghulat
Ghulat berasal dari kata ghala-yaghlu-ghuluw, artinya bertambah dan naik. Syiah ghulat adalah kelompok pendukung Ali yang memiliki sifat berlebihan atau ekstrim.
2. doktrin syiah ghulat
• Bada’
• Raj’ah
• Tasbih
• Hulul
• Ghayba
BAB.8
SALAF (IBN HANBAL DAN IBN TAIMIYAH)
A. Imam Ahmad bin Hanbal
1. Riwayat Singkat Ibn Hanbal
Dilahirkan di bagdad tahun 164H/780M. meninggal 241H. ia merupakan pendiri mazhab Hanbali.
2. Pemikiran Teologi Ibn Hanbal
• Tentang ayat Mutasyabihat
Dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, Ibn Hanbal lebih suka menerapkan pendekatan lafdzi (tekstual) dari pada pendekatan ta’wil, terutama yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan dan ayat-ayat mutasyabihat.
• Status Al-Qur’an
Al-Qur’an tidak diciptakan. Hal ini sejalan dengan pola pikirnya yang menyerahkan ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah kepada Allah dan RasulNya.
B. Ibn Taimiyah
1. Riwayat Singkat Ibn Taimiyah
Nama lengkapnya adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abi Al-Halim bin Taimiyah. Dilahirkan di Harran pada 661H. Taimiyah merupakan seorang tokkoh salaf ayng ekstrim karena kurang memberikan ruang gerak leluasa pada akal.
2. Pemikiran Teologi Ibn Taimiyah
• Sangat berpegang tguh pada nas
• Tidak memberiakn ruang yang bebas pada akal
• Al-Qur’an mengandung semua Ilmu agam
• Allah mwmiliki sifat yang tidak bertentangan tauhid dan tetap mentanzihkanNya.

BAB.9
Khalaf: Ahlusunnah (Al-Asy’ary dan Al-Maturidi)
A. Al-Asy’ary
1. Riwayat Singkat Al-Asy’ary
Nama lengkapnya adalah Abu Hasan Ali bin Ismail binIshaq binsalim bin Isma’il Abdillah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari. Lahir di Basrah tahun 260H. Asy’ari menganut paham Mu’tazilah smpai umur 40tahun. Setelah itu ia memgumumkan pada masyarakat Basrah bahwa ia telah meninggalkan Mu’tazilah dan meninggalkan keburukanya.
2. Doktrin-doktrin Teologi Al-Asy’ary
• Tuhan dan sifat-sifatNya
• Kebebasan dalam berkehendak
• Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk
• Qadimnya Al-Qur’an
• Melihat Allah
• Keadilah
• Kedudukan orang berdosa
B. Al-Maturidi
1. Riwayat Singkat Al-Maturidi
Abu Mansur Al-Maturidi dilahirkan di Maturid(Uzbekistan).
2. Doktrin-doktrin Teologi Al-Maturidi
• Akal dan Wahyu
• Perbuatan manusia
• Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan
• Sifat Tuhan
• Melihat Tuhan
• Kalam Tuhan
• Perbuatan Manusia
• Pelaku dosa besar
BAB.10
Perbandingan Antar Aliran: Pelaku Dosa Besar
A. Aliran Khawarij
Semua pelaku dosa besar adaalah kafir dan akan disiksa di neraka selamanya. Pelaku dosa besar menurut pandangan mereka telah beralih status keimanannya menjadi kafir milah(agama). Dan ia telah keluar dari isla. Mereka kekal bersaam orang-orang kafir lainnya.
B. Aliran Murji’ah
Pandangan Murji’ah tentang status pelaku dosa dosa besar dapat ditelusuri dari definisi iman yang dirumuskan oleh mereka.
Menurut Mur’jiah mederat, pelaku dosa besar tidaklah kafir. Meskipun disiksa di neraka, ia tidak kekal di dalamnya. Bergantung pada dosa yang dilakukan.
C. Aliran Mu’tazilah
Menurut Mu’tazialh, setiap pelaku dosa besar berada dipossisi tengah antara posisi mukmin dan kafir. Jika pelakunya meningggal srbelum bertobat, ia akan dimsukan kedalam neraka selamanya. Namun siksaan yang diberikan lebih ringan dari siksaan orang kafir.
D. Aliran Asy’ariyah
Al-Asy’ary tidak mengkafirkan orang-orang yang sujud ke Baitullah walaupun melakukan dosa besar, seperti berzina dan mencuri. Menurutnya, mereka masih tetap menjadi orang yang beriman dengan keimanannya yang mereka miliki, selakipun berdosa besar.
E. Aliran Maturidiyah
Pelaku dosa besar masih tetap mukmin karena adanya iman dalam dirinya. Adapun balasan yang diperolehnya kelak di akhirat bergantung pada apa yang dilakukannya di dunia. Jika ia meninggal tanpa tobat, maka keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Jika menghendaki pelaku dosa besar itu diampuni, ia akan dimasukan ke neraka namun tidak kekal di dalamnya.
F. Aliran Syiah Zaidiyah
Orang yang melakukan dosa besar akan kekal di neraka. Jika ia belum tobat yang sesungguhnya.
BAB.11
Perbandingan Antar Aliran: Iman dan Kufur
A. Aliran Khawarij
Iman dalam pandangan Khawarij, tidak semata-mata percaya kepada Allah. Mengerjakan segala perintah kewajiban agama juga termasuk bagian dari keimanan. Setiap pelaku dosa besar tetap sebagi Mawahid(yang mengesakan Tuhan). Tetapi bukan mukmin. Ia disebut kafir nikmat bukan kafir millah(agama). Siksaan yang akan diterimanya nanti adalah kekal dineraka bersama orang kafir.
B. Aliran Murji’ah
Keimanan terletak didalam kalbu saja, tidak didemonstrasikan baik dalam ucapan atau perbuatan. Oleh karena itu jika seseorang telah beriman dalam hatinya, ia tetap dipandang sebagai seorang mukmin sekalipun menmpakan tingkah laku seperti yahhudi dan nasrani.
BAB.12
Perbandingan Antar Aliran: Perbuatan Tuhan dan Perbuatan Manusia
A. Perbuatan Tuhan
1. Aliran Mu’tazialah
Aliran mu’tazilah, sebagai aliran kalam yang bercorak rasional, berpendapat bahwa perbuatan Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dikatakan baik. Namun, ini tidaka berarti bahwa tuhan tidak mampu melakukan perbuatan buruk. Aliran mu’taazilah memunculkan paham kewajiban Alloh berikut ini:
a. kewajiban tuhan memberikan beban di luar kemampuan manusia
b. kewajiban mengirimkan rosul
c. kewajiban menepati janji dan ancaman.
2. Aliran Asy’ariyah
Menurut aliran asy’ariyah, paham kewajiban tuhan berbuat baik dan terbaik bagi manusia, sebagaimana dikatakan aliran mu’tazilah, tidak dapat diterima karena bertentangan dengan paham kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan.
3. Aliran Maturidiyah
Mengenai perbuatan Alloh ini, terdapat perbedaan pandangan antara maturidiyah samarkand dan maturidiyah bukhara. Aliran maturidiyah samarkand, yang juga memberikan batas pada kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan, berpendapat bahwa peerbuatan tuhan hanyalah menyangkut hal-hal yang baik saja. Dengan demikian tuhan mempunyai kewajiban melakukan yang baik bagi manusia. Demikian juga pengiriman rasul dipandang maturidiyah samarkand sebagai kewajiban tuhan.
Adapun maturidiyah bukhara memiliki pandangan yang sama dengan asy’ariyah mengenai paham bahwa tuhan tidak mempunyai kewajiban.
B. Perbuatan Manusia
1. Aliran jabariyah
Ada perbedaan pandangan antara jaabariyah ekstrim dan jabariyah moderatdalam masalah perbuatan manusia. Jabariyah ekstrim berpendapat bahwa swgala perbuatan manusia bukan merupakan peerbuatan yang timbul dari kemauan sendiri , tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya. Menurut Jahm bin shafwan, salah seorang tokoh jabariyah ekstrim mengatakan bahwa manusia tidak mampu berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya dan upaya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan.
Adpaun jabariyah moderat mengatakan bahwa tuhan mencciptuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik, tetapi manusia mempunyai peranan di dalamnya.
2. Aliran Qadariyah
Segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendak sendiri. Manusia mempunyai kewenangan untukb melakukan segala perbuatannya atas kehendaknya sendiri.
3. Aliran Mu’tazilah
Memandang manusia mempunyai daya yang besar dan bebas. Oleh karena itu, mu’tazilah menganut faham qadariyah atau free will.
4. Aliran Asy’ariyah
Manusia di tempatkan pada posisi yang lemah. Ia di ibaratkan anak kecil yang tidak memiliki pilihan dalam hidupnya. Oleh karena itu, aliran ini lebih dekat dengan paham jabariyah daripada dengan paham asy’ariyah.
5. Aliran Maturidiyah

BAB.13
Perbandingan Antar Aliran: Sifat-sifat Tuhan
1. Aliran Mu’tazialah
Pertentangan faham antara kaum Mu’tazilah dengan kaum Asy’ariyah berkisar sekitar persoalan apakah Tuhan mempunyai sifat atau tidak. Jika tuhan punya sifat, sifat itu pastilah kekal bukan hanya satu sifat, tetapi banyak. Kaum Mu’tazilah mencoba menyelesaikan masalah ini dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Tuhan tidak mempunyai pengetahuan, kekuasaan, hajat dan sebagainya. Ini tidak berarti bahwa tuhan bagi mereka tidak mengetahui, tidak berkuasa, tidak hidup, dan sebagainya. Tuhan bagi mereka tetap mengetahui dan lainnya.
An-Nazhzham mengatakan bahwa jika ditetapkan Allah itu adalh zat yang tahu, berkuasa, hidup, mendengar, berkuasa, qadim yang ditetapkan sebenarnya adalah dzat Allah (bukan sifatnya).
2. Aliran Asy’ariyah
Pendapat Asy’ariyah berlawanan dengan faham Mu’tazilah. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat karena perbuatan-perbuatannya. Tuhan mengetahui, berkehendak, berkuasa, berpengetahuan, kemauan, dan daya.

BAB.14
Perbandingan Antar Aliran: Kehendak Mutlak Tuhan dan Keadilan Tuhan
1. Aliran Mu’tazilah
Mu’tazilah berprinsip keadilan Tuhan mengatakan bahwa Tuhan itu adil dan tidak mungkin berbuat zalim dengan memaksakan kehendaknya kedapa hambaNya kemudian mengharuskan hambaNya itu untuk menanggung akibat perbuatannya.
2. Aliran Asy’ariyah
Asy’ariyah mengatakan dengan tegas bahwa Tuhan mempunyai sifat. Tidak dapat di ingkari bahwa Tuhan mempunyai sifat karena perbuatannya. Tuhan mengetahui, menghendaki, berkuasa, dan sebagainya disamping mempunyai pengetahuan, kemauan dan daya. Allah memang memiliki sifat seperti mempunyai tangan dn kaki , namun itu tidak diartikan secara harfiah melainkan secara simbolik.
3. Aliran Maturidiyah
Dalam memahami kehendak mutlak dan keadilan Tuhan, aliran terpisah menjadi 2, yaiut: maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah bukahra. Pemisahan ini disebabkan perbedaan antara keduanya dalam menentukan porsi penggunaan akal dan pemberian batas terhadap kekuasaan mutlak Tuhan.
Kehendak mutlak Tuhan menurut Maturidiyah Samarkand, dibatasi oleh keadilan Tuhan. Tuhan tidak mngandung arti bahwa segala perbuatanNya adalah baik dan tidak mampu untuk berbuat buruk serat tidak mengabaikan kewajban Nya terhadap manusia. Tuhan tidak memberi beban yang terlalu
BAB.15
Konsep Kekhalifahan: Aplikasinya dalam Kehidupan
A. Aplikasi Khalifah dalam Bidang Politik
Aplikasi khalifah dalam bidang politik setidaknya dapat ditelusuri dari surat shad :26. Ayat yang berbicara tentang pengangkatan khalifah dalam Al-Qur’an ditunjukan kedapa Nabi Adam dan daud. Aplikasi khalifah dalam bidang politik berarti menjalankan politik sesuai dengan prinsip-prinsip kekhalifahan sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Etika yang harus dijalankan oleh setiap pemimpin politik adalah:
1. Pengenalan diri dan kesiapan menjadi pemimpin
2. Beragama dan bertaqwa kepada Tuhan
3. Berlaku adil
4. berlaku jujur
5. menepati janji
6. Berilmu pengetahuan
7. Memiliki keberanian
8. Dermawan
B. Aplikasi Khalifah dalam Bidang Hukum
Khalifah adalah pengganti Allah dalam melaksanakan aturan-aturannNya, yang diambil secara imlisit dari konsekuensi liogis tugas manusia sebagai pimimpin. Manusia telah diberi mandat oleh Allah untuk memimpin bumi dan langit serta isinnya. Melihat makna khalifah diatas, maka menerapkan huku Allah merupakan keharusan yang tidak boleh ditawar lagi oleh manusia senagai khalifah. Begitu pentingnya menegakan hukum Allah, sampai-sampai Allah mencap kafir, fasik dan zalim bagi orang yang tidak mau menegakan hukum Allah. Aplikasi khalifah dalam bidang hukum berarti pula menegakan hukum yang adil, termasuk memberi keputusan yang adil.
BAB.16
Studi Kritis terhadap Ilmu Kalam
A. Aspek Epistomologi Ilmu Kalam
Yang dimaksud epistomologi adalah cara yang digunakan oleh para pemuka aliran kalam dalam menyelesaikan persoalan kalam, terutama ketika menafsirkan Al-Qaur’an.
B. Aspek Ontologi Ilmu Kalam
Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, islam harus mampu meletakan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan. Teologi yang fungsional adalah teologi yang memenuhi panggilan tersebut., bersentuhan dan berdialog, sekaligus menunjukan jalan keluar terhadap berbagai persoalan empiris kemanusiaan. Tantangan kalam atau teollogi islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaaan, kemiskinan structural, kerusakan lingkungan dan sebagainya. Teologi dalam agama manapun yang dibahas hanya tuhahn dan tidak mengaitkan diskursusnya dengan persoalan kemanusiaan universal, memiliki rumusan teologis yang lambat laun akan menjadi out of date. Al-Qur’an sendiri dalam setiap diskursusnya selalu menyentuh dimensi kemanusiaan universal. Teologi islam dan kalam yang hidup untuk era sekarang ini berdialog dengan realita dan perkembangan pemikiran yang berjalan saat itu. Bukan teologi yang berdialog dengan masa lalu, apalagi masa islam yang telah jauh.
C. Aspek Aksiologi Ilmu Kalam
Kritik yang dialamatkan pada aspek aksiologi ilmu kalam menyangkut pada kegunaan ilmu itu sendiri dalam menyingkap hakikat kebenaran. Pada titik ini, Ahmad Hanafi melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logicometafisika, kea rah teologi yang mendasarkan pada paradigma empiris. Teologi bukan lagi ilmu tentang Tuhan semata, tetapi menjadi ilmu kalam (ilmu tentang analisis kalam atau ucapan semata dan juga sebagai konteks ucapan, yang berkaitan dengan pengertian yang mengacu pada iman.)



BAB.17
Pemikiran Kalam Ulama Modern : (Abduh, Ahmad Khan, dan Iqbal)
A. Syekh Muhammad Abduh
1. Pemikiran-pemikiran Kalam Muhammad Abduh
a. Kedudukan Akal dan Fungsi Wahyu
b. Kebebasan Manusia dan Fatalisme
c. Sifat-sifat Tuhan
Tidak secara tegas Abduh mengatakan bahwa sifat termasuk esensi Tuhan
d. Kehendak Mutlak Tuhan
Tuhan tidak bersifat mutlak, Tuhan telah membatasi kehendak mutlakNya dengan memberi kebebasan dan kesanggupan kepada manusia dalam mewujudkan perbuatannya.
e. Keadilan Tuhan
f. Antropomorfisme
g. Melihat Tuhan
h. Perbuatan Tuhan

B. Sayyid Ahmad Khan
1. Riwayat Singkat Sayyid Ahmad Khan.
Sayyid Akhmad Khan lahir di Delhi pada tahun1817. menurut keterangan, ia berasal dari keturunan husein, cucu Nabi Muhammad. Melalui Fatimah dan Ali. Sejak kecil Khan mendapat didikan tradisional dalam pengetahuan agama. Dia belajar bahasa Arab dan Persia.
2. Pemikiran-pemikiran Kalam Sayyid Ahmad Khan
Sejalan denagn faham Qadariyah yang dianutnya, ia menentang keras faham taklid. Khan berpendapat bahwa umat islam India mundur karena mereka tidak mengikuti perkembangan zaman. Gaung peradaban klasik masih melenakan mereka sehingga tidak menyadari bahwa peradabadan baru telah timbul dibarat. Selanjutnya Khan mengemukakan bahwa Tuhan telah menentukan tabiat atau nature(sunatullah) bagi setiap makhluknya yang tetap dan tidak pernah berubah. Menurutnya, islam adalah agama yang paling sesuai dengan hukum alam, karena hukum alam adalah ciptaan Tuhan dan Al-Qur’an adalah firmanNya maka sudah tentu keduanya seiring sejalan dan tidak ada pertentangan.


C. Muhammad Iqbal
1. Riwayat Singkat Muhammad Iqbal.
Muhammad Iqbal lahir di Sailkot tahun1873. ia berasal dari keluarga kasta Brahmana Khasmir. Ayahnya bernama Nur Muhammad yang terkenal saleh. Guru pertamanya adalah ayahnya. Pada tahun 1930, Iqbal memasuki bidang politik dan menjadi ketua konfrensi tahunan Liga Muslim di Allahabad.
2. Pemikiran Kalam Muhammad Iqbal
a. Hakikat Teologi
Secara umum ia melihat teologi sebagai ilmu yang dimensi keimanam. Mendasarkan pada esensi tauhid(universal dan inlkusivistik). Didalamnya terdapat jiwa yang bergerak berupa persamaan kesetiakawanan dan kebebasmerdekaan. Pandangannya tentang ontologi teologi membuatnya berhasil melihat anomali(penyimpangan) yang melekat pada literatur ilmu kalam klasik.
b. Pembuktian Tuhan

Dalam membuktikan eksistensi Tuhan, Iqbal menolah argument kosmologis, maupun ontologis. Ia juga menolak argument teologis yang berusaha membuktikan eksistensi Tuhan yang mengatur ciptaanNya dari sebelah luar. Walaupun demikian, ia menerima landasan teleologis yang imanen(tetap ada).
c. jati diri manusia.
Faham dinamisme Iqbal berpengaruh terhadap jati diri manusia. Manusia hidup untuk mengetahui kepribadiannya serta menguatkan dan mengembangkan bakat-bakatnya. Pada hakikatnya menafikan diri bukanlah ajaran islam karena hakikat hidup adalah bergerak dan gerak adalah perubahan.
d. Dosa
e. Surga dan Neraka
Surga dan Neraka adalah keadaan, bukan tempat. Gambaran tentang keduanya adalah penampilan kenyataan batin secara visual yaitu sifatnya. Neraka menurut Al-Qur’an adalah api Allah yang menyala-nyala dan membumbung keatas hati. Surga adalah kegembiraan karena mendapatkan kemenangan dalam mengatasi berbagai dorongan yang menuju kepada perpecahan. Tidak ada kutukan abadi dalam Islam. Neraka bukanlah kawah tempat penyikasaan abadi yang disediakan tuhan . ia adalah pengalaman korektif yang dapat memperkeras ego sekali lagi agar lebih sensitive terhadap tipuan angina sejuk dari kemahamurahan Allah. Surga juga bukan tempat berlibur, kehidupan itu hanya satu dan berkesinambungan.
BAB 18.
Ilmu Kalam Masa Kini : Ismail Faruqi , Hasan Hanafi Rasyidi , dan Harun Nasution
A. Ismail Al-Faruqi
1. Riwayat Singkat Ismail Al-Faruqi
Ismail Raji Al-Faruqi lahir pada tanggal 1 Januari 1921 di Jaffa Palestina. Pendidikan dasarnya mulai di madrasah, lalu pendidkan menengah di College des Freres St. Joseph dengan bahasa pengantar prancis.
2. Pemikiran Kalam Ismail Al-Faruqi
a. Tauhid sebagai inti pengalaman agama
b. Tauhid sebagai pendanagn agama
c. Tauhid sebagai intisari islam
d. Tauhid sebagai prinsip sejarah
e. Tauhid sebagai prinsip pengetahuan
f. Tauhid sebagai prinsip metafisika
g. Tauhid sebagai prinsip etika
h. Tauhid sebagai prinsip tata sosial
i. Tauhid sebagai prinsip ummah
j. Tauhid sebagai prinsip keluarga
k. Tauhid sebagai prinsiptata politik
l. Tauhid sebagai prinsip tata ekonomi
m. Tauhid sebagai prinsip estetika
B. Hasan Hanafi
1. Riwayat Singkat hasan hanafi
Hanafi dilahirkan di kairo Februari 1935. barasal dari keluarga musisi. Pendidikannya diawali pada tahun1948 dengan menamatkan pendidikan dasar. MTs Khalil Agha, kairo yang diselesaikannya selama empat tahun. Dari sekian banyak karya Hanafi, kiri islam merupakan salah satu puncak sublimasi pemikirannya semenjak revolusi 52. kiri islam meskipun baru memuat tema-tema dari proyek besar Hanafi, karya ini telah memformulasikan satu kecenderungan pemikiran yang ideal tentang bagaimana seharusnya sumbangan agama bagi kesejahteraaan umat.
2. Pemikiran Kalam Hasan Hanafi
a. Kritik terhadap teologi tradisional
Perlunya mengubah orientasi perangkat konseptual system kepercayaaan sesuai dengan perubahan konteks politik yang terjadi. Teologi bukanlah pemikiran murni yang hadir dalam kehampaan kesejarahan, melainkan mereflekasikan konflik-konflik sosial politik.



C. H.M. Rasyidi
1. Riwayat Singkat H.M. Rasyidi
Dalam konteks pertumbuhan kajiian akademik islam di Indonesia, orang akan sulut mengesampingkan H.M. Rasyidi, lulusan lembaga pendidikan tertinggi islam di Mesir yang melanjutkan ke paris dan kemudian memperoleh pengalaman mengajar di Kanada.
2. Pemikiran Kalam H.M. Rasyidi
a. Tentang perbedaan ilmu kalam dan teologi
Rasyidi menolak pandangan Harun Nasution yang menyamakan pengertian ilmu kalam dan teologi. Menurutnya, ilmu kalam adalah teologi islam dan teologi adalah ilmu kalam Kristen. Menurutnya, orang barat memakai istilah teologi untuk menunjukan tauhid atau kalam karena mereka tak memiliki istilah lain. Teologi berasal dari 2 kata, yaitu: teo(theos)artinya Tuhan, dan logos artinya ilmu. Jadi teologi adalah ilmu ketuhanan. Adapun sebab munculnya teologi Kristen adalah ketuhanan Nabi Isa, sebagai salah satu dari tri-tunggal atau trinitas.
b. Tema-tema ilmu kalam.
Salah satu tema ilmu kalam Harun Nasution yang dikritik Easyidi adalah deskripsi aliran kalam yang sudah relevan lagi dengan kondisi umat sekarang, khususnya di Indonesia. Rasyidi berpendapat bahwa menonjolkan perbedaan pendapat antara Asy-ariyah dan Mu’tazilah sebagaimana dilakukan harun, akan melemahkan iman para mahasiswa. Memang tidak ada agama yang mengagungkan akal seperti islam, tetapi dengan meggambarkan bahwa akal dapat mengetahui baik dan buruk, sedangkan wahyu hanya membuat nilai yang dihasilkan pikiran manusia bersifat absolute-universal, berarti meremehkan ayat-ayat Al-Qur’an.


c. hakikat iman
kritik Rasyidi terhadap deskripsi iman oleh Nurcholis Majid, yakni” percaya dan menaruh kepercayaan kepada Tuhan. Dan sikap apresiatif kepada Tuhan merupakan inti pengamalan keagamaan seseorang. Sikap ini disebut Takwa. Takwa diperkuat dengan kontak yang kontinu dengan Tuhan. Apresiasi ketuhanan menumbuhkan kesadaran ketuhanan yang menyeluruh, sehingga menumbuhkan keadaan bersatunya hamba dengan Tuhan.” Menanggapi pernyataan diatas, rasyidi menyatakan bahwa iman bukan sekedar menuju bersatunya manusia dengan tuhan, tetapi dapat dilihat dalam dimensi konsekuensial atau hubungan manusia dengan manusia, yakni dalam kehidupan mesyarakat. Bersatunya seseorang dengan Tuhan tidak merupakan aspek yang mudah dicapai, mungkin hanya seorang saja dari sejuta orang. Jadi yang lebih penting dari aspek penyatuan itu adalah kepercayaan, ibadah dan kemasyarakatan.
D. Harun Nasution
1. Riwayat Singkat Harun Nasution
Harun Nasution lahir pada selasa 23 september 1919 di Sumatra. Harun Nasutoan adalah figur sentral dalam semacam jaringan intelektual yang terbentuk di kawasan IAIN Ciputat.
2. Pemikiran Kalam Harun Nasution
a. Peranan akal
Besar kecilnya peranan akal dalam system teologi suatu aliran sangat menentukan dinamis atau tidaknya pemahaman seseorang tentang ajaran Islam. Akal melambangkan kekuatan manusia, karena akallah manusia mampu menaklukkan kekuatan makhluk lain.
b. Pembaharuan teologi
Pembaharuan teologi yang menjadi prediakt Harun Nasution pada dasarnya dibangun diatas asumsi bahwa ketenbelakangan dan kemunduran umat islam Indonesia disebabkan ada yang salah dalam teologi mereka. Retorika ini mengandung pengertian bahwa umat islam dengan teologi fatalistik, irasional, pre-determinisme serta penyerahan nasib telah membawa nasib mereka menuju kesengsaraaan dan keterbelakangan. Jika ingin mengubah nasib umat islam, hendaknya mengubah teologi metreka menuju teologi rasional, mandiri, dan free-wiil.
c. Hubungan akal dan wahyu
Hubungan wahyu dan akal memang menimbulkan pertanyaan, tetapi keduanya tidak bertentangan. Akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Al-Qur’an. Orang yang beriman tidak perlu menerima bahwa wahyu mengandung segala-galanya. Wahyu bahkan tidak menjelaskan semua permasalahan keagamaan. Namun akal tetap tunduk pada teks wahyu, dan teks wahyu tetap dianggap benar. Akal dipakai untuk memahami wahyu dan tidak untuk menentang wahyu.